Menu
Suara Masyarakat Indonesia

Parah! Disentil Dahlan, Saham Konstruksi BUMN ARB Berjamaah

  • Share
Parah! Disentil Dahlan, Saham Konstruksi BUMN ARB Berjamaah

Jakarta, CNBC Indonesia – Saham-saham emiten BUMN Karya serempak ambruk pada perdagangan sesi I hari ini, Senin (5/4/2021). Bahkan beberapa di antaranya menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) pagi ini.

Merosotnya saham emiten konstruksi pelat merah ini setelah Eks Menteri BUMN Dahlan Iskan menyoroti mengenai kinerja sejumlah BUMN Karya yang tak memuaskan, di tengah gencarnya proyek infrastruktur.

Berikut ini gerak saham-saham emiten konstruksi BUMN pada pukul 11.06 WIB.


  1. Pembangunan Perumahan (PTPP), saham -6,91%, ke Rp 1.280, transaksi Rp 43 M

  2. Wijaya Karya (WIKA), -6,84%, ke Rp 1.430, transaksi Rp 49 M

  3. Waskita Karya (WSKT), -6,64%, ke Rp 1.055, transaksi Rp 13 M

  4. Adhi Karya (ADHI), -5,80%, ke Rp 1.055, transaksi Rp 90 M

  5. Wijaya Karya Beton (WTON), -5,62%, ke Rp 302, transaksi Rp 3 M

  6. Wijaya Karya Bangunan Gedung (WEGE), -2,91%, ke Rp 200, transaksi Rp 4M

  7. Jasa Marga (JSMR), -1,21%, ke Rp 4.080, transaksi Rp 6 M

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat tiga saham konstruksi pelat merah yang ambles hingga menyentuh ARB. Ketiganya ialah PTPP, WIKA dan WSKT.

Sementara dua saham tercatat ambruk sampai di atas 5%, yakni ADHI dan WEGE.

Saham PTPP tercatat paling anjlok di antara saham lainnya, yakni 6,91% ke Rp 1.280/saham. Nilai transaksi saham ini sebesar Rp 43 miliar.

Amblesnya saham PTPP dibayangi aksi jual bersih oleh asing sebesar Rp 869,82 juta.

Dengan pelemahan ini, saham PTPP hanya menghijau sekali dalam sepekan, yakni pada Kamis pekan lalu (1/4). Alhasil, dalam sepekan saham ini sudah ambrol 14,38%, sementara sebulan sudah anjlok 19,75%.

Di tempat kedua, ada saham WIKA yang juga menyentuh ARB sebesar 6,84% ke posisi Rp 1.430/saham. Nilai transaksi saham ini sebesar Rp 49 miliar. Asing tercatat ramai-ramai melego WIKA sebesar Rp 4,40 miliar.

Adapun dalam sepekan saham WIKA tidak pernah menghijau, setelah empat kali memerah dan satu kali ditutup stagnan.

Dengan demikian, dalam seminggu terakhir saham ini ambles 11,46% dan sebulan ambrol 18,05%.

Setali tiga uang, WSKT juga jatuh dan ARB 6,64% ke Rp 1.055/saham dengan nilai transaksi Rp 13 miliar. Sama seperti kedua saham di atas, asing melakukan aksi jual bersih sebesar Rp 658,38 juta.

Seiring pelemahan ini, saham WSKT tercatat sudah tersungkur di zona merah selama 12 hari perdagangan berturut-turut.

Dalam seminggu saham WSKT sudah ambles 21,85%, sedangkan dalam sebulan sudah terjun 26,22%.

Sebelumnya, Dahlan Iskan, dalam artikelnya “Haus Kerongkongan,” meyakini ramalan para ekonom mengenai ketahanan BUMN Infrastruktur tinggal menunggu waktu akan terjadi. Posisi BUMN Karya digambarkan akan sulit atau sulit sekali.

Sektor konstruksi memang menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19. Proyek-proyek konstruksi terpaksa mangkrak ketika Indonesia pertama kali kedatangan tamu tak diundang dari Wuhan, China.

Mangkraknya proyek ini tentu saja menyebabkan sektor konstruksi yang padat modal merugi parah akibat arus kas yang macet. Sementara beban keuangan yang jumbo akibat hutang usaha yang besar harus tetap dibayar.

Hal ini tentu saja tercermin dari laporan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya di tahun 2020 yang kinerjanya sangat tidak memuaskan. Beberapa BUMN Karya laba bersihnya terpaksa terpangkas hingga 90%.

Dari seluruh BUMN Karya, terdapat satu perusahaan yang kerugiannya sangat dalam, apabila dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Adalah PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang pada tahun 2020 terpaksa membukukan rugi bersih Rp 7,38 triliun.

Rugi bersih yang amat masif ini menyapu bersih seluruh laba ditahan Waskita yang sudah dikumpulkan sejak perseroan pertama kali berdiri pada tahun 1973 sehingga ekuitas WSKT saat ini hanya tersisa Rp 7,53 triliun, lenyap lebih dari separuh tepatnya 57,88% dari posisi tahun lalu Rp 17,88 triliun.

Berbeda dengan WSKT, saudaranya sesama BUMN Karya PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) masih mampu membukukan untung bersih di tahun 2020 sebesar Rp 50 miliar. Tidak merugi memang, akan tetapi angka ini turun 92% dari laba bersih tahun lalu.

Sementara, PTPP, bernasib sama dengan WIKA yang masih mampu membukukan laba bersih meski anjlok parah dari tahun lalu, PTPP berhasil meraup ‘cuan’ Rp 128 miliar tahun ini, turun 86% dari posisi tahun lalu.

[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)


Sumber CNBC

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *