Menu
Suara Masyarakat Indonesia

Kisah Panggilan Siti Rahmah pada Jamaah Haji Wanita, dari Istri Syekh Djunaid al Betawi : Okezone Nasional

  • Share
https: img.okezone.com content 2021 07 20 337 2443372 kisah-panggilan-siti-rahmah-pada-jamaah-haji-wanita-dari-istri-syekh-djunaid-al-betawi-G3ckHcJrUW.jpg

BUDAYAWAN Betawi, Alwi Shahab dalam tulisannya Siti Rahmah. Siti Rahmah menceritakan bahwa sejak abad ke-18 orang Betawi telah banyak yang menunaikan ibadah haji. Meskipun untuk menunaikan rukun Islam kelima itu mereka harus menempuh perjalanan berbulan-bulan dengan kapal layar.

Pada awal abad ke-19 seorang ulama Betawi bernama Syekh Djunaid bermukim di Makkah. Ia pun memakai nama Syekh Djunaid al-Betawi.

Ia amat termashur, karena dipercaya menjadi Imam Masjidil Haram. Dia juga mengajar agama Islam di serambi masjid tersebut. Muridnya bukan hanya dari Nusantara, tapi juga umat Islam dari berbagai belahan dunia.

Konon, Syekh Djunaid yang telah kesohor di negeri Hijaz itu mempunyai istri bernama Siti Rahmah. Syekh Junaid orang pertama yang memperkenalkan nama Betawi di mancanegara.

“Diduga, itulah asal mulanya, sehingga sejak ratusan tahun lalu wanita Indonesia yang beribadah ke Tanah Suci dipanggil ”Siti Rahmah”,” kata Alwi.

Panggilan ini populer hingga sekarang, meski zaman telah berubah dan para keluarga Betawi menamakan putera-puterinya dengan nama modern.

Ketika jamaah haji tiba di Makkah atau Madinah, para pedagang biasanya menyambut mereka dengan sebutan Siti Rahmah. Mereka berteriak untuk menawarkan dagangan pada para jamaah haji wanita. ”Siti Rahmah… Siti Rahmah, harga murah, homsah (lima) real,” kata mereka.

Syekh Junaid Al-Betawi lahir di Pekojan, Jakarta, sampai akhir hayatnya menjadi guru dan imam di Masjidil Haram, Makkah.

Menurut Ridwan Saidi, budayawan Betawi, ia diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mazhab Syafi’i mancanegara pada abad ke-18.

Syekh Junaid hidup sezaman dengan Habib Husein Luar Batang. Hingga kini, masjid dan makam Habib Husein berada di Pasar Ikan, Jakarta Utara, banyak diziarahi. Syekh Junaid pada usia 25 tahun, beserta keluarganya bermukim di Makkah.

Ia memiliki empat anak, Asad dan Said, serta dua perempuan. Anak perempuan pertamanya menikah dengan Abdullah Al-Misri, yang kemudian tinggal di Pekojan.

Putri dari Abdullah Al-Misri ini menikah dengan Habib Abdullah bin Yahya, ayah dari Habib Usman bin Yahya. Salah satu putri Syekh Junaid lainnya menikah dengan Imam Mujitaba.

Dari perkawinan ini lahir guru Marzuki, tokoh ulama Betawi dari Cipinang Muara, Jakarta Timur. Dia adalah guru dari KH Abdullah Sjafi’ie (pemimpin perguruan Islam Assyafi’iyah) dan KH Tohir Rohili (pendiri perguruan Islam Tohiyah). Kedua ulama tenar Betawi ini juga murid Habib Ali Alhabsji, pendiri majelis taklim Kwitang.

Syekh Junaid, yang wafat di Mekkah pada 1840 dalam usia di atas 100 tahun, selama mengajar di Masjidil Haram banyak memiliki murid yang berasal dari mancanegara. Di antaranya Syekyh Nawawi Al-Bantani, keturunan pendiri Kerajaan Islam Banten, Maulana Hasanuddin (putra Syarif Hidayatullah).

Karenanya, setiap haul Syekh Nawawi, selalu dibacakan Fatihah untuk arwah Syekh Junaid. Sampai kini kitab-kitab karangan Syekh Nawawi khususnya mengenai hukum-hukum fikih mazhab Syafii, dijadikan rujukan bukan hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Begitu dihormatinya Syekh Junaid Al-Betawi di Tanah Hijaz.

Pada 1925, ketika Syarif Ali (putra Syarif Husin) ditaklukkan oleh Ibnu Saud, kata Buya Hamka, di antara syarat penyerahannya adalah, ”Agar keluarga Syekh Junaid tetap dihormati setingkat dengan keluarga Raja Ibnu Saud.”

Persyaratan yang diajukan Syarif Ali ini diterima oleh Ibnu Saud.” (Buya Hamka dalam ‘Diskusi Perkembangan Islam di Jakarta,’ pada 27-30 Mei 1987).

Hingga sekarang, keturunan Syekh Junaid ada yang menjadi pengusaha hotel dan pedagang. Mereka bukan berdagang di Pasar Seng, Makkah, tapi di toko-toko.

Selanjutnya

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *